Pengalaman dan semangatnya mengungkap kebenaran itulah yang membuatnya menulis Trilogi Insiden—kumpulan cerita pendek Saksi Mata (1994), novel Jazz, Parfum, dan Insiden (1996), dan kumpulan esai Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (1997). Semuanya dengan berani berbicara tentang peristiwa berdarah di Timor Timur itu. Wiji Thukul kemudian hilang dan hingga kini belum ditemukan keberadaannya bahkan ketika rezim berganti dan malah mendapat hadiah Yap Thiam Hien pada tahun 2002. Hilangnya Wiji Thukul disinyalir karena kevokalannya dalam mengkritisi pemerintah. CATATAN TENTANG BUKU "KETIKA JURNALISME DIBUNGKAM SASTRA HARUS BICARA" *** "Hidup ini bisa kita buat agak lebih menyenangkan, jika kita memang 'menghendakinya'" (kutipan dari cerpen Salazar, karya Seno Gumira Ajidarma .) *** Kalau Emha Ainun Nadjib identik dengan Markesot, maka Seno Gumira Ajidarma melekat erat dengan tokoh bernama Sukab. Pada akhirnya, istilah Jurnalisme Data memang digunakan untuk menyebut kegiatan jurnalisme yang berhubungan dengan teknologi digital. Dalam The Handbook of Data Journalism yang disunting oleh Jonathan Gray, Liliana Bounegru, dan Lucy Chambers (2012), secara khusus dikatakan bahwa Jurnalisme Data memang hadir di dunia digital seperti saat ini lisensi perjudian internasional šŸ’• - dqĀ·titkcdnglbĀ·com. šŸ’• dqĀ·titkcdnglbĀ·com. situs gacor. situs gampang wd. situs slot gacor hari ini. berbagai permainan. agen judi bola. Casino terbesar di indonesia. prediksi bola. PENUTUP JURNALISME SASTRAMAJALAH BERITAMINGGUAN TEMPO PADA KASUS REKENING PERWIRA POLISI (Studi Analisis Framing Penerapan Jurnalisme SastraMBMTempo pada Pemberitaan Kasus Rekening ā€˜Gendut’ Perwira Polisi). Bagi Seno, karya sastra adalah ’’cara lainā€ untuk memberitakĀ­an rekaman-rekaman fakta, realitas, yang tidak sanggup dituturkan jurnalisme. Pada 1997 dia memformulaĀ­sikan pilihan estetik itu dalam kredo: ’’ Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena ketika jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran.ā€ Meski cerpen ini terkesan serius, namun Seno dalam pengakuannya di buku Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (hal. 29-31) menyebut cerpen ini digarap dengan semangat humor. Pend. Bahasa & Sastra Indonesia di salah satu kampus swasta kota itu. Saya tertegun dan tak bisa menjawab. Saya hanya ingat dan akhirnya saya utarakan ungkapan melekat Seno, bahwa ā€œKetika jurnalisme dibungkam, maka sastra bicara.ā€ Tetapi jurnalisme sekarang tidak dibungkam. Sergah kakak sepupu saya sengit. Seturut dengan pemikirannya, ā€œKetika jurnalisme dibungkam, sastra bicara!ā€ Cerpen "Clara" karya Seno Gumira Ajidarma pertama kali dipublikasikan dengan judul "Clara atawa Perempuan yang Diperkosa" di harian Republika (1998) lalu diterbitkan ulang dalam bentuk kumpulan cerpen pada buku Iblis Tidak Pernah Mati (Galang Press, 1999) dengan EBYAp23.